Orang yang paling berharga dalam hidupku adalah orang tuaku. Aku sangat sayang kepada mereka karena mereka sangat baik dan perhatian kepadaku. Segala yang aku inginkan mereka penuhi, ketika aku sakit aku dirawat dengan baik, ketika aku sedih aku dihibur. Terkadang mereka juga marah namun marah itu semata-mata hanyalah untuk mendidikku agar bisa menjadi anak yang lebih baik dan berbakti lagi.
Aku sangat senang ketika mereka mempunyai keinginan / niat untuk melaksanakan ibadah haji. Berbulan-bulan mereka mempersiapkan segala sesuatunya demi melaksanakan rukun islam kelima ini. Namun aku juga sedih ketika Allah menguji mereka dengan suatu peristiwa yang dapat menangguhkan mereka melaksanakan ibadah ini. Tepatnya pada minggu malam, sepulangnya ayahku mengantar saudara ke Cirebon, ayahku mengalami kecelakaan. Dia jatuh dari motor karena tabrakan dengan mobil semacam honda jazz. Ketika itu ayahku tidak menggunakan helm karena ia sedang naik ojek. Untungnya pengendara mobil bertanggung jawab, ia mengantar ayahku ke puskesmas terdekat, ketika di puskesmas ayahku masih sadar bahkan sempat menelpon ibuku untuk datang. Namun kemudian ia mengalami kesakitan pada bagian tangannya, kemudian setelah ibuku datang ayahku dibawa ke tempat untuk mengurut, namun karena sakit belum hilang, kemudian dibawa ke rumah sakit di daerah Kuningan, disini dilakukan scanning pada bagian tulang, namun tidak dapat melakukan scanning pada bagian kepala, padahal ketika itu ayahku merasa sakit luar biasa pada bagian kepala, ketika diajak berbicara pun kacau. Karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, akhirnya ayahku dibawa ke rumah sakit di daerah Cirebon, tepatnya di Rumah Sakit Gunung Jati. Ketika itu ayahku masuk ke ruang perawatan, namun ketika ditanya siapa ini? dia tidak mengenali orang-orang di sekitarnya. Bahkan ibuku juga tidak ia kenal, sontak ibuku dan keluarga menangis. Kemudian diputuskan untuk dibawa ke ruang ICU dan dioperasi untuk mengeluarkan gumpalan darah di kepalanya.
Dua jam berlalu, operasi telah selesai, ayahku masih belum siuman karena pengaruh obat bius. Ketika itu kami tidak dapat menjenguknya, karena sudah malam sementara jadwal besuk yaitu pukul 11.00 – 13.00 dan 17.00 – 19.00.
Keesokan harinya ayahku siuman, ketika ditanya kembali Alhamdulillah sebuah keajaiban! ayahku bisa mengenali orang-orang di sekitarnya, bahkan ia sempat bertanya “Bu ini hari apa? hari ini kan bapak harus pergi menjemput koper-koper di calon jemaah haji lainnya.” Ibuku hanya menjawab “Sudah pa, yang penting bapak sehat dulu.” Ketika ayahku bilang “Bu ibu berangkat haji saja dengan embah (nenek), biar bapak disini, dirawat oleh yang lainnya.” Ibuku begitu tegar “Pa, ibu tidak berangkat sekarang, ibu akan merawat bapak sampai bapak sembuh, ibu akan menemani bapak berangkat tahun depan.” Keluargaku semua menangis terharu mendengar pembicaraan mereka, memang sangat tidak terduga karena seharusnya Rabu, 19 November 2008 ayahku, ibuku, dan nenekku berangkat haji bersama, namun Allah memberi ujian kepada kami agar bisa lebih bersabar.
Alhamdulillah berkat pertolongan dari-Nya kini ayahku sudah pindah ke ruang perwatan dan bisa mengobrol dengan para penjenguk.
Saya pribadi mewakili keluarga memohon do’a kepada para pembaca demi kesembuhan Bapakku.
Terima Kasih.